by

Dua Gadis Dibawah Umur jadi PSK Online, Diciduk Bersama Siswa Berseragam

MASIH DIBAWAH UMUR: Mawar, 14 tahun (kiri) dan Melati, 17 tahun (kanan) ketika dimintai keterangan oleh penyidik Satpol PP Banjarbaru di Mako Satpol PP Banjarbaru. Mereka terindikasi praktik prostitusi online dengan sistem janjian via aplikasi pengolah pesan. | Foto: Muhammad Rifani/Radar Banjarmasin.

Kabar ini sungguh mengejutkan, Satpol PP Banjarbaru mengamankan dua gadis dibawah umur yang menjadi PSK online di penginapan, bersama enam remaja laki-laki. Dua diantaranya masih berseragam sekolah.

— Oleh: MUHAMMAD RIFANIBanjarbaru —

Mata Mawar (14) memerah. Air mata juga mengucur perlahan. Mimiknya tampak gugup dan takut. Sementara Melati (17) juga demikian, hanya saja ia tak sampai berlinang air mata.

Ya, kedua gadis di bawah umur ini diamankan petugas Satpol PP Banjarbaru, kemarin (5/8) siang. Mereka diduga terlibat dalam bisnis esek-esek prostitusi online di Banjarbaru.

Saat diangkut petugas di tempat mereka ngamar: sebuah penginapan di Jalan A Yani Km 33. Baik Mawar & Melati sama-sama kaget bukan kepalang. Tak disangka orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah aparat.

Ketika diamankan. Mawar & Melati tidak sendiri. Di dalam kamar Melati, tampak ada enam orang remaja di bawah umur. Parahnya dua orang di antaranya pakai seragam sekolah. Rupanya mereka pelajar asal Banjarmasin yang bolos dan berteman dengan Mawar & Melati.

Terungkapnya bisnis haram yang dilakoni Mawar & Melati berawal dari laporan warga. Bahwasanya di tempat tersebut kerap dimanfaatkan para PSK untuk memadu kasih berbayar dengan pria hidung belang.

Baca Juga  Mobil Dinas Operasional KPH provinsi Kalimantan Selatan hanyut

“Dari laporan warga baru kita selidiki lebih dalam. Alhasil usai pura-pura jadi pelanggan, tim kita berkomunikasi lewat aplikasi dengan salah satunya (Melati, red) dan janjian di tempat tersebut,” kata PPMS Seksi Opsdal Satpol PP Banjarbaru, Yanto Hidayat.

Mawar & Melati dibawa ke Mako Satpol PP. Rekan-rekan prianya pun turut diangkut.

Ketika dilakukan pemeriksaan. Mawar & Melati tak menampik dengan profesinya. Hanya saja dari pengakuannya, Mawar mengaku tak sedang “stay”. Sementara Melati tak bisa berkilah lantaran ia yang berkomunikasi dengan tim penyamar petugas. Terlebih bukti obrolan turut diarsipkan.

“Keduanya mengakui sebagai PSK dengan basis online. Modusnya janjian lewat aplikasi lalu bertemu di suatu tempat. Untuk lokasi kadang mereka pindah-pindah,” kata Yanto yang menginterogasi keduanya.

Baik Mawar & Melati mengaku mematok tarif dari Rp400.000. Paling mentok nego Rp100.000. Penghasilan segitu sudah cukup bagi mereka membayar sewa kamar: Rp150.000. Sisanya masuk kantong pribadi mereka.

Secara domisili tempat tinggal. Mawar & Melati merupakan warga Banjarmasin. Mereka ke Banjarbaru hanya mengadu peruntungan. Lantaran dari pengakuan keduanya jika di Banjarbaru lebih menjanjikan.

“Kalau di Banjarmasin pasarannya paling mentok Rp200.000 dan saingannya banyak. Nah di sini lebih tinggi tarifnya,” aku Mawar ketika di interogasi petugas.

Lantas apa yang melatarbelakangi keduanya masuk ke bisnis hitam ini. Mengingat dua gadis ini juga masih di bawah umur dan laik untuk bersekolah. Mawar & Melati menjawab kompak: himpitan ekonomi, pergaulan dan masalah keluarga.

Baca Juga  Ternyata Terduga PSK Online di Banjarbaru Juga Positif Narkoba

“Saya sudah lulus sekolah SMP, tapi tidak melanjutkan ke SMA. Setelah itu terpengaruh lingkungan dan di ajak-ajak buat beginian, karena penghasilannya lumayan. Tapi saya tidak rutin setiap hari seperti yang lainnya,” bela Melati. Sementara Mawar mengaku putus sekolah di jenjang SMP dan terjerumus ke dunia sekarang.

Lalu apa mereka tak khawatir dengan masa depannya apalagi masih berusia muda? Mawar & Melati tak menjawabnya. Keduanya hanya tertegun ketika ditanyakan hal tersebut.

Adapun, di dalam kamar mereka menginap. Petugas menemukan bungkus alat kontrasepsi. Beberapa masih utuh sementara ada yang telah digunakan. “Harus pakai. Saya tidak berani tanpa kontrasepsi,” jawab Melati.

Yang makin bikin miris. Ketika coba ditanya lebih dalam oleh wartawan. Uang hasil menjajakan diri pun ternyata dipakai untuk hura-hura di tempat hiburan malam. Sebagian lagi untuk biaya hidup.

Panggil Pengelola Penginapan

SETELAH selesai menjalani proses BAP oleh Satpol PP. Karena masih di bawah umur, saat ini keduanya akan ditangani oleh Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Kota Banjarbaru bersama Dinas Sosial Kota Banjarbaru.

Kasi PPA Dinas Pengendalian Penduduk KB, Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Banjarbaru, Fahrina yang datang ke Mako Satpol PP mengaku miris atas adanya kasus ini.

Baca Juga  Bappeda: Menyiapkan konsep Kalsel sebagai ibu kota negara terhebat di dunia

Apalagi katanya, ini merupakan kasus pertama prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur. “Kami akan melakukan pendampingan terhadap mereka, karena seusia UU anak mereka memang masih dibawah umur.”

Lalu kata Fahriani, pihaknya akan berkoordinasi dengan PPA Provinsi untuk menangani kasus ini. Lantaran diketahui sendiri jika domisili tinggal para remaja di bawah umur ini bukan di wilayah Banjarbaru.

“Karena kasus ini lintas kabupaten/kota. Kita akan secepatnya berkoordinasi dengan Dinas PPA Provinsi Kalsel, terkait apa tindakan yang akan dilakukan selanjutnya,” jawabnya.

Sejauh ini, kedua gadis yang terindikasi bisnis prostitusi Online ini akan dilakukan pembinaan di rumah singgah Dinsos Banjarbaru dan akan melakukan tindakan lanjutan dari dinas terkait.

Di lain pihak, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Banjarbaru, Marhain Rahman menegaskan pihaknya akan memanggil pengelola penginapan. Hal ini ujarnya berkaitan dengan adanya aktivitas prostitusi online yang baru terungkap.

“Kita akan panggil pemilik atau pengelolanya ke kantor. Karena sudah jelas jika sesuai aturan kalau tidak boleh ada praktik prostitusi di Kota Banjarbaru,” katanya.

Sementara terkait tindak lanjut atas proses hukum kedua gadis terduga PSK ini. Marhain mengatakan akan berkoordinasi dengan pihak terkait yang menangani kasus anak di bawah umur.

“Untuk dilanjutkan ke Sidang Tipiring atau tidak kita akan koordinasi dulu dengan dinas atau instansi yang menangani kasus anak-anak di bawah umur,” pungkasnya. Fz/Sbr

 

Comment