by

Sempat Gagal Dan Tak Putus Asa, Anak Buruh Cuci Piring yang Lulus jadi Casis Polri

PALANGKA RAYA, Dua kali mengikuti tes. Dua kali belum beruntung alias gagal. Dia tak putus asa. Yang ketiga kalinya, pemuda 20 tahun itu berhasil lulus. Membuat kedua orangtuanya bangga.

Raut wajahnya berseri-seri. Sesekali bercanda dengan ibunya. Lalu ibunya membalas dengan memeluknya. Erat. Bahagia sekali. Pemandangan itulah yang terlihat sebelum Rahmat berangkan ke Sekolah Polisi Negara (SPN) Tjilik Riwut, kemarin.

Lahir dari keluarga yang serba sederhana, sering dikucilkan, anak bungsu dari dua bersaudara itu berhasil membuat bangga kedua orang tuanya, Madhur (55) dan Sumini (53).

Sejak kecil, polisi menjadi cita-cita yang harus diraih. Duduk di bangku sekolah, semakin bersemangat untuk meraihnya.

“Cita-cita jadi polisi itu sudah dari saya kecil, waktu itu saya ingat, ketika ada kerusuhan, saya digendong oleh polisi untuk diungsikan ke dalam kapal,”ujarnya.

Baca Juga  Kapolsek Pahandut menyerahkan bantuan kepada korban kebakaran

Gendongan itu terus terekam dalam kehidupannya sehari-hari. Gendongan seorang berseragam coklat. Polisi.

Pemuda kelahiran Sampit itu menghabiskan sekolah TK di Ponorogo. Lalu kembali ke Sampit ketika duduk di bangku sekolah dasar.

Seiring berjalannya waktu, setelah lulus dari SMAN 1 Sampit, dia mendaftar dan mengikuti serangkaian tes. Semua dilakukan untuk menggapai cita-cita mengenakan seragam korps bhayangkara.

Kemauan untuk mengikuti tes polisi ini awalnya mengundang ragu dari kedua orangtuanya.

“ Nak bapak hanya tukang ojek dan mama hanya tukang cuci piring, kita uang dari mana kalau maumasuk polisi,”kisah Rahmat mengulangi kata-kata sang ayah dua tahun silam.

Rahmat diam-diam mendaftar. Untuk mengurus segala syarat administrasi, ia

menggunakan uang jajan yang disisihkannya selama masa sekolah.

Baca Juga  DIpertanyakan Kejelasan Ijazah Calon Kades yang Diduga Palsu

“ Saya ikut tes. Mengurus sendiri mas, pokoknya bapak mama hanya sama minta untuk doa dan dukungan saja,”paparnya.

Rahmat gagal ketika memasuki tahap tes kesehatan. Gagal tak membuatnya ciut. Taka da rasa putus asa.  Rahmat memilih bekerja di toko baju. Tapi, tetap menjaga kondisi kesehatan dengan tidak bersentuhan dengan tokok dan minuman-minuman yang dilarang oleh agamanya.

Tahun 2018, mencoba tes lagi.  Pemuda pendiam ini gagal lagi.

 “Saya tetap tidak patah semangat,”tegasnya.

Gagal tes kali kedua, Rahmat memutuskan untuk kembali bekerja pada sebuah perusahan yang bergerak di bidang distribusi alat tulis dengan posisi sebagai sales.

“Saya akhirnya pilih kerja sebagai sales alat tulis,” katanya.

Untuk ketiga kalinya, pemuda kelahiran tahun 1999 kembali mencoba.

Dalam hatinya, tes ini yang terkakhir. Dalam hatinya juga yakin bisa lulus. Yakin bisa.

Baca Juga  Karyawan Sawit Tewas Tercebur di Kolam Limbah

Rahmat akhirnya kembali mengikuti seleksi beberapa bulan lalu. Tinggal di Palangka Raya dengan berbekal uang jajan seadanya.

Saya dikasih uang jajan sama ibu Rp200 ribu untuk sebulan,”ujarnya.

Proses seleksi terus dilalui dan akhirnya dinyatakan lulus. Rahmat membuat bangga orangtuanya .

Kalau Tuhan mau saya jadi polisi, ya saya pasti jadi,”ujarnya tersenyum.

Di akhir perbincangan, Rahmat hanya meminta doa dari orangtuanya, dan saudara kandung agar kedepan bisa menjadi polisi yang baik. Karena, baginya kesulitan menjadi seorang polisi tidaklah seberapa dibandingkan dengan perjuangan menjadi polisi yang baik dan menjadi panutan bagi masyarakat ditengah zaman ini.

“Teruslah menjadi Rahmat yang seperti sekarang ini. Yang sederhana dan taat,”sahut Sumini, sambil berderai air mata. Ar/sbr

Comment